Hari Minggu

Stasiun-Jakarta-Kota-Tahun-2015-5
Source: Blog

 

Pada hari Minggu ku pergi ke Jakarta Kota

Naik commuter line ku duduk nyelip di tengah dua wanita

Punggung pegal namun ku bawa tidur saja

Tak lama pak masinis bicara bahwa kereta kita telah tiba

Ku cukup bahagia karena kereta tak tertahan lama

Namun tak lama ketika hendak masuk stasiun kota, kereta berhenti seketika

Pak masinis bilang ada antrian, maka kereta harus berhenti segera

Bokong mulai pegal apalagi punggung sudah tersiksa

Akhirnya ku putuskan untuk berdiri saja

Ku berdiri sambil berdoa agar kereta bergerak segera

Namun doa belum terijabah tiba-tiba listrik mati seketika

Syukur tak lama ia segera menyala

Pukul lima sore ku putuskan untuk pulang kembali

Namun kereta tak kunjung datang aku segera merebahkan badan di bangku empat kaki

Ku menunggu sambil memakan kue sisa siang tadi

Namun posisi kereta masih misteri

Tak sadar ternyata waktu magrib menghampiri

Segera ku berjalan menuju mushola sebelum terlalu penuh nanti

Wudhu dan mukena ku menanti

Namun sayang, bolak-bolak diselak mbak-mbak dan ibu-ibu yang tergesa setengah mati

Ku hanya bisa menahan amarah hati

Dan berencana berdoa saja pada Tuhan ketika dapat mukena nanti

Akhirnya tiba jua ku di rumah

Tak sabar ingin kasur tuk berebah

Segera ku bebersih dan menengadah

Bersapa-sapa dengan si kasur murah meriah

Segera ku berserah

Dan mimpi indah

 

06 Januari 2017

Yuna

Bumi dan Keyakinan

IMG_7545

Beberapa bulan lalu saya membaca sebuah artikel tanya-jawab (edisi cetak National Geographic Indonesia, November 2016) tim redaksi National Geographic dengan Leonardo DiCaprio mengenai film dokumenter terbarunya yang berjudul Before the Flood (yang sedihnya belum sempat saya tonton sampai sekarang). Film yang menceritakan tentang perubahan iklim dan kemunduran kapabilitas bumi untuk menampung manusia. Pada sesi tanya-jawab ini pula Leo mengungkapkan kegelisahannya tentang isu (yang menurutnya) terbesar, yakni menyelamatkan planet demi kelangsungan hidup kita di masa depan. Intinya, tindakan yang kita ambil hari ini untuk bumi, sangat berkontribusi dengan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Jika kita begitu rakus hari ini, maka akan berimbas dengan kepunahan manusia di masa depan.

Baca lebih lanjut

Kisah Tiga Sahabat

IMG_8692

Saya inget waktu itu malem-malem, Malang lagi dingin dan temen saya bercerita tentang kisah tiga sahabat yang kurang lebih seperti ini;

Ada tiga orang perempuan yang berteman baik, sebutlah namanya Merah, Kuning dan Hijau, yang harus berpisah karena satu dan lain hal. Sebelum berpisah mereka berkumpul dan merayakan hari terakhir mereka, sambil sama-sama berjanji untuk saling mendoakan satu satu sama lain. Setelah malam itu, mereka pun harus tinggal di tiga tempat berbeda.

Tahun demi tahun berlalu, hingga suatu hari akhirnya mereka bisa berkumpul lagi. Merah, Kuning dan Hijau. Merah dan Kuning menjadi individu yang baik, sedang Hijau mengalami banyak kemunduran. Merah dan Kuning heran dan bertanya, “Hijau, kenapa kamu seperti ini sekarang?”. Lalu Hijau balik bertanya, “Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian dalam doaku, apakah kalian juga mendoakanku?”. Lalu pertanyaan itu dijawab dengan diam oleh Merah dan Kuning, mereka tau jawabannya adalah tidak.

Jika ditelaah dengan logika memang bisa jadi kurang masuk akal, tapi intinya adalah doa memang sepenting itu, semagis itu.

Yuna

Aku dan Bus Kota

Aku dan Bus Kota

Terkadang ini yang kurindukan dari perjalanan membosankan dengan bus kota

Gemerincing besi hordeng yang bertabrakan saat roda tersandung jalan bergerigi atau terjeblos lubang yang meleset mata

Deru knalpot yang kadang membesar kadang mengecil berkali-kali

Riuh suara percakapan yang sayup terdengar dari depan, belakang, kanan, kiri

Suara lagu dari beragam genre dan liriknya yang sering tak biasa. Membahas segala rupa isu dari mulai tragedi cinta sampai kisah suram kehidupan. Atau tentang kerinduan

Ada kalanya suara yang bergetar dari para manusia jalan yang menjadikan bus kota sebagai sumber mata pencaharian

Bayangan pohon yang menempel pada wajah dengan ragam ekspresi para penduduk jok yang kadang berbau asam

Dengan hembus udara segar seadanya dari mesin pendingin, dan silau terik matahari di kota di negeri tropis ini

Duduk sendiri menikmati segalanya dengan sekali waktu ditemani buku berhalaman tipis

Aku

dan bus kota

dan semua seisinya.

 

19 Maret 2017

Yuna

Terima Kasih Banda Neira (yang terlambat 6 bulan)

tumblr_inline_mggs2uJU9w1rzex1n
Sumber: Banda Neira Blog

Bicara Banda Neira adalah lagu ringan yang tidak njelimet, namun mengena dan mudah untuk dicintai. Bukan sekedar bicara romansa, tapi puitis yang melebihi dari buta yang dihasilkan jatuh cinta. Namun, bicara Banda Neira juga berarti bicara dua musisi (yang semakin ke sini semakin tidak terlalu) nelangsa berumur 4 tahun lebih yang akhir tahun lalu memutuskan untuk berhenti berkarya bersama. 

Baca lebih lanjut