Bangkok: Kisah dan Euforianya

WhatsApp Image 2018-10-26 at 11.05.20 PM
Setelah pulang dari jalan-jalan di Bangkok selama 5 hari 4 malem, saya mendadak pingin nulis. Trip ke Bangkok ini adalah bagian dari impulsif beli tiket pas promo Air Asia, yang mana saya yakin juga terjadi pada banyak orang lain haha. Meski sebentar banget, karena sampe sana Minggu jam 8 malem dan pulang Kamis jam 8 pagi (dan jelas nggak dapet Chatuchak Market) tapi perjalanannya seru! Dan tiketnya murah banget, pulang pergi less than 1 million hehe.

Baca lebih lanjut

Iklan

Curahan Hati Kecoa

DSC00737

Saya tinggal di sebuah flat tua bersama seorang teman dari Pakistan. Kami banyak bicara-bicara tentang negara masing-masing, berbagi makanan, dan bertukar pikiran. Ternyata walau sama-sama muslim, rakyat negara dunia ketiga, warga biasa, dan perempuan satu generasi, kita punya buanyak sekali perbedaan. Dari mulai sesederhana urusan masak nasi yang saya biasa pake rice cooker dan dia dimasak pake kompor, bagaimana prosesi ‘penilaian’ keluarga mempelai cowok ke calon istri, saya makan ayam pake nasi dia makan ayam nggak pake nasi, saya nggak suka makanan pedes dia nggak bisa makan kalo nggak pedes, sampai soal kekentalan patriarki di masing-masing negara. Tapi dari sekian banyak perbedaan itu kita punya satu persamaan lain yang sangat kuat yakni sama-sama geram dengan kecoa yang ada di rumah!

Baca lebih lanjut

Kata Cerita: Klepon

 

IMG_1901

Namaku Kiki. Umurku 5 tahun. Aku punya cita-cita menjadi Koki Klepon. Jadi setiap hari aku bisa makan klepon yang banyak. Klepon yang rasanya enaaak sekali seperti buatan Ibuku. Klepon buatan Ibuku aku beri nama Caca, karena klepon buatan Ibuku mirip dengan tetanggaku yang masih bayi yang bernama Caca. Yang setiap pagi dijemur di bawah sinar matahari hingga mukanya merah. Aku kadang kasihan melihat Caca kepanasan. Tapi karena itu aku beri nama klepon buatan Ibuku bernama Caca! Karena sama-sama kecil, sama-sama bulat, dan sama-sama kepanasan!

Baca lebih lanjut

Yang Kutemui di Perjalanan

DSC00767

Aku berjalan bersama matahari yang terik

Bersama seorang wanita paruh baya yang memakai kemeja putih berenda

Aku berjalan bersama seorang lelaki penuh uban. Dengan ransel besar dan bau tak sedap dari sekujur tubuhnya

Aku berjalan bersama hembus angin yang menusuk kulit

Bersama seorang gadis dengan pusar yang terlihat dan celana yang memperlihatkan hampir seluruh kakinya

Aku berjalan bersama pemuda berambut rapih, dengan setelan jas dan celana berwarna padu

Aku berjalan bersama rintikan hujan

Bersama seekor anjing milik pak tua yang memakai mantel berwarna merah

Ekornya bergerak lincah kegirangan

Aku berjalan bersama musik di telinga

Bersama sepasang kekasih pria dan wanita yang terus bergandengan tangan tak mau lepas

Aku berjalan bersama seekor burung merpati. Yang celingak-celinguk mencari apapun yang bisa dikunyah

Bersama seekor burung kakaktua

Bersama seekor burung dengan paruh panjang

Paruh pendek

Bersayap kuning

Berbulu abu

Beragam rupanya

Aku berjalan bersama langit malam yang cerah. Dengan cahaya bulan yang bulat sempurna. Terang benderang

Dengan berbintik-bintik bintang yang tak terhitung jumlahnya

Dengan satu-dua mobil yang melaju dengan cepat menembus senyapnya malam

Aku berjalan bersama wanita berjilbab yang memberiku senyumannya

Aku berjalan bersama pria berwajah letih. Dengan rokok dan kopinya

Aku berjalan bersama buruh-buruh yang baru saja pulang kerja

Berjalan dengan cepat

Tak mau tertinggal kereta

Aku berjalan bersama penari berwajah warna-warni. Menari di bawah lampu merah. Menari dengan sekotak kardus meminta upah

Aku berjalan bersama alunan flute yang merdu

Aku berjalan bersama alunan harpa

Aku berjalan bersama alunan keyboard

Aku berjalan bersama alunan gitar akustik

Aku berjalan bersama mereka, para pemusik yang mengharap sekedar 5 sen dari saku setiap manusia yang lewat

Aku berjalan bersama si pria pantomim. Yang berlenggak-lenggok dengan iringan lagu Coldplay. Atau terkadang John Lenon

Imagine all the people

Living life in peace

Aku berjalan bersama diriku sendiri

Menyerap segala yang ada disekitarku

Menerimanya dengan ikhlas

Menakar dan mencoba memahami

Aku berjalan bersama pikiran-pikiranku

Bersama doa dan keyakinanku

Bersama hatiku dan apa yang ia bisikkan padaku

Aku berjalan, melangkah dengan kedua kakiku. Menyambut apa yang akan kulalui nanti. Apapun itu. Bagaimanapun itu

Aku berjalan bersama doa dan keyakinanku

Dan itu yang membuatku tetap berjalan

7 Desember 2017

Yuna